Bengkulu--Gita Agusti Liani (19), anak yatim yang
sejak kelas 6 SD sudah di tinggal ayahnya, merupakan salah seorang
penerima beasiswa Bidikmisi. Gita adalah mahasiswa angkatan 2010 di
Universitas Bengkulu (UNIB). Gadis ini bercita-cita menjadi guru SD
yang professional, sehingga bisa mengajar di mana saja, seperti
Indonesia mengajar. Ia juga menuturkan, jika ada rezeki dan kesempatan,
ia ingin melanjutkan program S2 supaya bisa jadi dosen. "Dan yang paling
penting adalah membuat ibu saya bahagia dan bangga lahir dan bathin",
ujarnya bersemangat kepada tim portal www.kemdikbud.go.id saat berkunjung ke Universitas Bengkulu. (22/12)
Anak pertama dari dua bersaudara ini kuliah di
Universitas Bengkulu untuk program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Ia kini sedang menempuh semester 5. Prestasi akademiknya pun cemerlang.
Pada semester I, IPK 3,57, kemudian naik menjadi 3,87 pada semester II.
Kemudian IPKnya di semester III mendapat 3,70, sedangkan pada
semenster IV 3,67.
Gita mengaku tidak memiliki prestasi khusus maupun
prestasi di bidang non-akademik. Karena itu ia ingin terus
mempertahankan prestasi akademiknya. "Saya bertekad IPK saya tidak boleh
kurang dari 3,5 karena ingin lulus dengan nilai Cumlaude", katanya
dengan penuh keyakinan.
Awalnya, Gita merasa terzalimi karena informasi
bidikmisi tidak sampai kepadanya. Ia sempat kecewa dengan teman-temannya
satu SMA yang tidak berbagi informasi. Begitu juga dengan
guru-gurunya. Anak yang Ibunya bekerja sebagai buruh ini berceritra,
ketika ia duduk di kelas 3 SMA, ia melihat teman-temanya sibuk
mengurus beasiswa Bidikmisi, sementara dia tidak tahu tentang itu
karena dia masuk jurusan IPS. Sedangkan teman-temannya yang masuk
jurusan IPA semua mengetahui.
"Setelah itu saya mencari tahu dengan teman saya
di SMA lain, katanya mereka dapat beasiswa Bidikmisi. “Kok bisa? Kok
saya tidak tahu ya?” tutur gita mengenang awal mulanya mengetahui
adanya beasiswa Bidikmisi. Saya tertarik dan berusaha mencari tahu
bagaimana caranya, " katanya. Namun ketika informasi itu di dapat dari
teman-temannya dari SMA lain ternyata pendaftarannya sudah tutup. "Saya
merasa sakit hati", kata Gita.
Tapi ia tetap percaya rejeki tak kan kemana.
Keyakinannya terbukti ketika ia diterima menjadi mahasiswa UNIB. Dalam
suatu pertemuan di informasikan bebagai jenis beasiswa di kampus
tersebut yang salah satunya beasiswa Bidikmisi. Ternyata kuota penerima
Bidikmisi masih ada. "Dengan semangat dan harus cepat, saya langsung
beritahu ibu dan saya sampaikan persyaratannya dan hal lain yang
diperlukan. “Jadi semuanya di urus oleh ibu saya,”kenang Gita yang saat
itu sedang sibuk mengikuti PKK di Fakultas dan Program Studi.
"Akhirnya saya dapatkan rejeki Bidikmisi ini
dengan usaha yang panjang dan sangat bersyukur karena dari PGSD angkatan
2010 hanya saya yang lolos beasiswa Bidikmisi. Saya bangga dan
terharu,” ucapnya sambil menahan tangis.
Gita berharap, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan tetap mempertahankan Bidikmisi sampai kapan pun. "Bila perlu
perluas jaringan komunikasinya melalui iklan di Televisi, agar saudara
kita yang mau sekolah benar-benar bersemangat dan termotivasi ,
"usulnya.
Ia juga berharap ada tindak lanjut bagi penerima
Bidikmisi ke depannya. "Misalnya, diadakan sebuah karantina untuk
memberikan kami ketrampilan lebih, karena tidak hanya kemampuan akademik
yang baik tetapi harus punya keahlian. " ucapnya sambil mengakhiri
wawancara. (EH/JS}
sumber: kemendikbud.go.id

0 komentar:
Posting Komentar