Banner Konsumen Cerdas
Banner Konsumen Cerdas
Jumat, 28 Desember 2012
0 komentar

Capai Cita-cita Jadi Guru Melalui Bidikmisi

20.42
Bengkulu--Gita Agusti Liani (19), anak yatim yang sejak kelas 6 SD sudah di tinggal ayahnya, merupakan salah seorang penerima beasiswa Bidikmisi. Gita adalah mahasiswa angkatan 2010 di Universitas  Bengkulu (UNIB). Gadis ini bercita-cita  menjadi guru SD yang professional, sehingga bisa mengajar di mana saja, seperti Indonesia mengajar. Ia juga menuturkan, jika ada rezeki dan kesempatan, ia ingin melanjutkan program S2 supaya bisa jadi dosen. "Dan yang paling penting adalah membuat ibu saya bahagia dan bangga lahir dan bathin", ujarnya bersemangat  kepada tim portal www.kemdikbud.go.id saat berkunjung ke Universitas Bengkulu. (22/12)
Anak pertama dari dua bersaudara ini kuliah di Universitas Bengkulu untuk program studi  Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ia kini sedang menempuh semester 5. Prestasi akademiknya pun cemerlang. Pada semester I, IPK 3,57, kemudian naik menjadi 3,87 pada semester II. Kemudian IPKnya di semester III mendapat  3,70, sedangkan pada  semenster IV 3,67.
Gita mengaku tidak memiliki prestasi khusus maupun prestasi di bidang non-akademik. Karena itu ia ingin terus mempertahankan prestasi akademiknya. "Saya bertekad IPK saya tidak boleh kurang dari 3,5 karena ingin  lulus dengan nilai Cumlaude", katanya dengan penuh keyakinan.
Awalnya, Gita merasa terzalimi karena informasi bidikmisi tidak sampai kepadanya. Ia sempat kecewa dengan teman-temannya satu SMA yang tidak berbagi informasi. Begitu  juga dengan guru-gurunya. Anak yang Ibunya bekerja sebagai buruh ini berceritra, ketika ia duduk di kelas 3 SMA, ia  melihat teman-temanya sibuk  mengurus beasiswa Bidikmisi, sementara dia tidak tahu  tentang itu karena dia masuk jurusan IPS. Sedangkan  teman-temannya  yang masuk jurusan IPA semua mengetahui.
"Setelah itu saya mencari tahu dengan teman saya di SMA lain, katanya mereka dapat beasiswa Bidikmisi. “Kok bisa? Kok saya tidak tahu ya?”  tutur gita mengenang awal mulanya mengetahui adanya beasiswa Bidikmisi. Saya tertarik dan berusaha mencari tahu bagaimana caranya, " katanya. Namun ketika informasi itu di dapat dari teman-temannya dari SMA lain ternyata pendaftarannya sudah tutup. "Saya merasa sakit hati", kata Gita.
Tapi ia tetap percaya rejeki tak kan kemana. Keyakinannya terbukti ketika ia diterima menjadi mahasiswa UNIB. Dalam suatu pertemuan  di informasikan bebagai jenis beasiswa di kampus tersebut  yang salah satunya beasiswa Bidikmisi. Ternyata kuota penerima Bidikmisi masih ada. "Dengan semangat dan harus cepat, saya langsung beritahu ibu dan saya sampaikan persyaratannya dan hal lain  yang diperlukan. “Jadi semuanya di urus oleh ibu saya,”kenang Gita yang saat itu sedang sibuk mengikuti  PKK di Fakultas dan Program Studi.
"Akhirnya saya dapatkan rejeki Bidikmisi ini dengan usaha yang panjang dan sangat bersyukur karena dari PGSD angkatan 2010 hanya saya yang lolos beasiswa Bidikmisi. Saya bangga dan terharu,” ucapnya sambil menahan tangis.
Gita berharap, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tetap mempertahankan Bidikmisi sampai kapan pun. "Bila perlu perluas  jaringan komunikasinya melalui iklan di Televisi, agar saudara kita yang mau sekolah benar-benar bersemangat dan termotivasi , "usulnya.
Ia juga berharap ada tindak lanjut bagi penerima Bidikmisi ke  depannya. "Misalnya, diadakan  sebuah karantina untuk memberikan kami ketrampilan lebih, karena tidak hanya kemampuan akademik yang baik tetapi harus punya keahlian. " ucapnya sambil mengakhiri wawancara. (EH/JS}

sumber: kemendikbud.go.id

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer
Top